Nulis yuk, nulis!
Dalam emailnya kemarin seorang redaktur majalah remaja Islami berkata kepadaku: Kok udah lama gak kirim cerpen ke Annida, Ka? Kirim lagi dong, yang khas-khas Bali, gitu :)
Aku jadi senyum-senyum sendiri. Apalagi waktu si mbak redaktur mengungkapkan keinginannya untuk datang ke Bali, karena seumur-umur belum pernah sekali pun dia menjejakkan kaki di Pulau Dewata tempat aku lahir dan dibesarkan ini. Padahal dalam novel perdananya yang terbit baru-baru ini, dia menulis beberapa adegan yang bersetting Bali (emang jadi penulis itu kudu 'sok tau' ya Mbak, hehehe...).
Hmmm... dipikir-pikir emang enak jadi penulis. Bisa 'berkhayal' sepuasnya, bisa 'berlagak' seolah-olah kita pernah pergi ke sebuah tempat nun jauh di sana yang belum pernah sekali pun kita kunjungi J. Apa lagi di era TI macam sekarang, berbagai informasi bisa kita peroleh secara instan. Tinggal klik sana klik situ, dalam hitungan detik setumpuk info yang kita butuhkan sudah tersaji lengkap di depan mata. Enak nian jadi penulis zaman sekarang! J
Hmmm..., nulis lagi, ah. Nulis yuk, nulis! Hidup nulis! J
!!!
[ETALASE] “THE SANDHILLS OF ARABIA: Takdir yang Terenggut”

Judul: "THE SANDHILLS OF ARABIA: Takdir yang Terenggut"
Penulis: Laila Hasib
Penerjemah: Elka Ferani
Penyunting: Prayudi
Penerbit: Pustaka Zahra (Jakarta)
Lini Produk: Zahra Novel
Cetakan: 01, April 2005
Jumlah Halaman: 358
Dimensi: 11,5 x 17 cm
ISBN: 979-98470-5-2
Harga: Rp 34.500
“Nama aslimu adalah Zahida Abdul Nur. Sekarang, apa yang akan kau lakukan? Akankah kau tetap menjadi Mary O’Brien? Atau akankah kau menemukan dirimu yang sebenarnya?” Syahidah menangis pelan saat Mary bertolak pergi dengan menunggang untanya. Jilbabnya berkibar-kibar ditiup angin. Ia tidak akan pernah tahu apakah Mary memilih Islam dan menemukan kedua orang tua kandungnya. Setidaknya aku telah menemukan diriku yang sebenarnya, pikir Syahidah sambil membolak-balik botol kecil berisi pasir negeri Kuwait di saku pakaiannya.
***
Dituturkan dengan amat apik, The Sandhills of Arabia menghadirkan kisah yang benar-benar mengharukan tentang teguhnya persahabatan dua orang gadis di sahara. Di tengah suasana perang, Syahidah, seorang gadis Muslim yang kehilangan ayah dan tengah mencari jati diri, merajut tulusnya persahabatan dengan Mary, seorang gadis yang sejatinya terlahir dari keluarga Muslim namun diadopsi oleh seorang misionaris Kristen.
Kisah cinta, persahabatan, dan perjuangan mereka untuk bertahan hidup di tengah-tengah suasana perang dan ganasnya sahara benar-benar bakal menguras simpati dan keharuan Anda. Dikisahkan bagaimana Syahidah—yang terpaksa mengungsi bersama adik dan ibunya yang tengah hamil tua—justru menemukan cintanya di tengah carut-marutnya peperangan. Sementara Mary, harus menghadapi kenyataan pahit bahwa takdirnya telah terenggut, terenggut oleh ayah adopsinya....
***
Mau tahu koleksi lain dan cara dapat diskon? Klik di sini
Akan menikah ...
ZZ

Akad nikah insya Allah akan dilaksanakan pada Ahad, 22 Mei 2005, bertempat di Masjid Nurul Huda, Bandara Ngurah Rai - Bali, pukul 09.00-10.00 wita. Setelah itu dilanjutkan dengan walimatul ursy pada pukul 11.00-13.00 wita, bertempat di Gedung Serbaguna PT(Persero) Angkasa Pura I, Bandara Ngurah Rai - Bali.
Mohon doa restu.Elka & HeruZZ
TELAGA BENING CINTA BUNDA



Y Kebahagiaan seorang bunda adalah bila
buah hatinya senantiasa dekat dengannya Y
Aku baru menyadarinya siang itu, sepulang mengambil setumpuk undangan walimah yang desainnya kupilih bersama-sama Ibu. Sambil tetap berkonsentrasi menyetir di keramaian lalu lintas, kulirik Ibu yang membisu di sampingku. Kepala Ibu tertunduk, lekat tertuju pada kertas merah jambu di tangannya.Ada telaga di mata ibu. Bening dan mulai meluap. Setetes demi setetes. Membanjiri pipi Ibu yang mulai berkerut digilas roda usia. Aku menduga ibu sedang menangis bahagia. Atau sedih? bisik hati kecilku gundah.Kucoba mencari tahu dengan bertanya pelan kepadanya.Ibu tersipu seraya mengusap lelehan bening itu. Mulailah beliau mencurahkan isi hatinya."Waktu kamu harus pergi meninggalkan Ibu untuk kuliah di kota lain, berhari-hari Ibu gelisah dan tidak bisa tidur. Tapi ayahmu berusaha menghibur Ibu. Kata Ayah, memang sudah waktunya kamu pergi dan lepas dari kami. Kelak bila tiba waktunya, kamu juga akan dibawa pergi suamimu," tutur Ibu bergetar. Lalu ia terdiam. Undangan merah jambu itu kini tergeletak di pangkuannya."Akhirnya saat yang dikatakan ayahmu tiba juga...," lanjutnya lirih.Aku tertegun. Mencoba berempati. Membayangkan jika aku berada di posisinya. Andai aku adalah seorang wanita yang telah ditinggal wafat suami tercinta, yang di rahimnya pernah dititipkan tiga buah hati yang kini telah beranjak dewasa. Si sulung yang kini menetap jauh di kota metropolitan. Si bungsu yang sedang menjalani kuliah tingkat akhir di kota lain. Dan ada si anak tengah, yang belum lama ini kembali ke "pangkuan"-nya setelah lima tahun lebih merantau ke pulau seberang demi menuntut ilmu. Tiba-tiba saja ada seorang pria, yang berstatus "bukan siapa-siapa", akan membawa pergi gadis yang baru saja menginjak usia seperempat abad itu.Bukan siapa-siapa?Aku menghela napas. Si anak tengah itu adalah aku. Dan pria yang "bukan siapa-siapa" itu adalah calon suamiku. Namun saat aku "dibawa pergi" olehnya nanti, statusnya telah berubah menjadi suamiku, seorang lelaki yang kepadanya kupersembahkan seluruh baktiku. Seorang lelaki yang haknya atas diriku melampaui hak wanita yang melahirkanku.Aku tahu Ibu mengerti itu. Karena Ibulah yang mengajariku tentang kewajiban berbakti pada suami. Tidak hanya dengan kata-kata, namun juga dengan teladannya semasa ayahku masih hidup. Aku dapat merasakan, betapa Ibu telah membuktikan cinta dan kesetiannya kepada Ayah, satu-satunya belahan jiwanya. Maka tak heran jika Ibu kerap menyebut nama almarhum Ayah dengan nada kerinduan. Lelaki yang telah mewariskan harta tak ternilai harganya: putra-putri penyejuk hati. Setelah Ayah berpulang, kepada siapa lagi ibu menaruh harapan selain kepada ketiga buah hatinya?Namun waktu telah mengubah segalanya. Kini sang buah hati tak lagi bisa selalu berada di dekatnya. Maka tak jarang aku mendengar ibu berkata dengan nada sedih, "Rasanya Ibu lebih bahagia waktu kalian masih kecil. Ibu benar-benar dibutuhkan oleh kalian waktu itu. Tapi sekarang..."Lantas dari mulutnya meluncurlah cerita-cerita kenangan saat aku masih kecil. Saat aku minta diantar pada hari pertama sekolah. Ketika aku minta dipasangkan pita di rambutku. Waktu aku merengek agar dibacakan buku cerita pengantar tidur. Bukan permintaan yang istimewa, namun bagi Ibu itulah masa-masa ketika perannya sebagai seorang bunda benar-benar dibutuhkan.Sementara itu, di lain waktu Ibu pernah mengeluhkan sikap anak-anaknya yang kerap "melupakannya". Jarang berkirim kabar, walau sekadar sapaan singkat yang dilayangkan lewat SMS. Mungkin kedengarannya sepele. Tapi bagi ibuku, yang kukenal sebagai wanita yang sangat perasa, itu adalah kenyataan yang menyakitkan. Seakan-akan kami, anak-anak yang dibesarkannya dengan susah-payah, tak lagi membutuhkannya. Tak lagi merindukan dan membutuhkan belai kasihnya.Diam-diam ada rasa bersalah yang menyelusup ke kisi-kisi hatiku.Siang semakin menjemput terik. Keruwetan lalu lintas seolah tak berujung. Perjalanan terasa panjang. Aku dan Ibu sama-sama membisu. Kami hanya berbicara dengan bahasa kalbu. Mungkin karena lidah kami sama-sama kelu."Tapi walau sedih, Ibu bahagia, Nak," suara Ibu memecah keheningan. Didekapnya kertas merah jambu itu di dadanya. Seulas senyum menghiasi wajahnya yang teduh. Ibu seperti bisa membaca kegundahan hatiku. Aku tahu Ibu berusaha keras menyembunyikan kesedihannya. Ah, Ibu. Bunda mana yang tidak bahagia melihat anaknya bahagia? Aku tahu, Ibu adalah orang yang paling berbahagia mengantarkanku melepas sauh untuk mengayuh biduk rumah tangga. Meski restu yang ia beri harus ditukar dengan kesunyian hari-harinya tanpa keberadaan diriku lagi di sampingnya.
Y Maka hari itu pun aku belajar satu hal lagi tentang
keikhlasan seorang bunda, yang di hatinya bermuara
telaga bening cinta yang tak pernah kering Y



ibu doakanlah
ibu doakanlah ku akan melangkah
menyusuri waktu menjemput citaku
ibu lepaskanlah ku ke laut biru
akan kuarungi akan kuseberangi
ibu doakanlah ku sedang melangkah
menjalani hari menjemput harapku
ibu lepaskanlah ku dengan maafmu
tentramkan hatiku menempuh hidupku
doamu oh ibu selalu kunantitulus dan suci dari relung hatidoamu oh ibu selalu kunantimohonkanlah Allah Rabbi besertakan selalu:Lirik
by SEISMIC
maaf .... :-)
Maaf ya pengunjung, kalo udah dibikin bete saat membuka blog ini. Masak perkara kelinci aja dibikin tulisan? Hehehe ... J
Sebenarnya sih saya gak punya niatan cerita soal remeh-temeh kayak gitu. Saya cuma lagi latihan nulis aja. Berlatih merangkai kata, meronce kalimat. Mengukur kekuatan nafas saya dalam menulis. Hasilnya? Baru beberapa paragraf udah terengah-engah, hehehe... J
*duh elka, gimana mau jadi
penulis kalo kayak gini?*
Kelinciku Sayang, Kelinciku Malang
Peternakan Kelinci
Saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, Ayah (almarhum) membeli sepasang kelinci untuk dijadikan hewan piaraan. Aku senang karena punya "mainan" baru yang membuatku kerap tak sabar untuk cepat pulang ke rumah. Sepulang sekolah, buru-buru aku berganti baju. Lalu tenggelam dalam keasyikan memberi makan piaraan kami yang baru. Tiap hari ibu membeli berikat-ikat kangkung, sayuran yang relatif murah dan tidak semahal wortel yang konon merupakan makanan favorit para kelinci. Tapi ternyata berdasarkan pengamatan, kelinci itu doyan apa saja, kok. Kangkung, bayam, kulit timun, kulit semangka, tanaman di pot..., apa saja yang berjenis buah dan tumbuhan dilahapnya dengan rakus. Akhirnya, demi penghematan tidak setiap hari kami membeli sayuran khusus untuk makanan kelinci. Tak ada kangkung, kulit timun bolehlah. No problem. Mereka tetap sehat dan montok.
Tanpa diduga-duga, kelinci yang tadinya cuma berjumlah dua ekor, mulai berkembang biak dengan cepat. Jumlahnya berlipat dari dua menjadi lima, sepuluh, lima belas, sampai akhirnya lebih dari dua puluh ekor. Warna bulunya pun beragam. Ada yang putih, abu-abu, coklat, dan belang-belang. Halaman rumah kami yang luas jadi seperti peternakan kelinci. Ayah pun akhirnya membuat kandang khusus di bawah pohon mangga yang rindang.
Kebetulan rumah kami waktu itu berada di sebuah kompleks perumahan dinas yang tertutup dan bebas dari lalu lalang kendaraan, sehingga kelinci-kelinci itu cukup bebas berkeliaran di jalan-jalan depan rumah kami. Sayangnya, mereka kerap tidak menyadari bahaya yang mengintai. Sebagaimana wilayah lainnya di Pulau Bali, daerah tempat tinggalku pun tak luput dari keberadaan anjing-anjing liar yang gemar mencari mangsa di mana-mana. Kelinci-kelinciku tentu saja merupakan mangsa empuk bagi mereka. Satu-persatu, kelinci-kelinci tak berdosa itu menjadi korban. Jika tidak dimangsa hidup-hidup, ada bagian tubuh yang terluka karena gigitan anjing. Betapa tidak teganya mendengar jeritan kelinci-kelinci itu saat tubuh mereka yang tak berdaya meronta-ronta dalam cengkeraman kuat rahang anjing yang sedang kelaparan. Ingin menangis rasanya melihat mereka terbaring lemah dengan luka menganga di kaki, yang kian hari kian membusuk dan akhirnya merenggut nyawa mereka secara perlahan-lahan. Oh, kelinci-kelinciku yang malang. L
Gara-gara anjing-anjing liar itu, satu demi satu kelinci-kelinci kami yang lucu menemui ajalnya dan akhirnya habis sama sekali. Dengan berat hati, kandang mereka dibongkar. Peternakan kelinci pun tinggal kenangan.
Poni dan Moli
Beberapa tahun kemudian, Ayah kembali membeli sepasang kelinci. Yang satu betina berwarna coklat, kami beri nama Moli. Pasangannya berwarna putih, kami beri nama Poni. Bila kuperhatikan, mereka adalah dua ekor kelinci yang memiliki karakter bertolak belakang. Si Moli tampak lincah, agresif, dan kecentilan. Sementara si Poni terlihat tidak bergairah dengan sepasang mata menyorot sayu, bagaikan tidak memiliki semangat hidup. Jika Moli melompat-lompat lincah di sampingnya, Poni hanya diam saja. Poni lebih suka berbaring tenang seraya matanya menatap kosong ke depan. Melihat si jantan Poni yang pasif ini, kami jadi ragu apakah mereka bisa menghasilkan keturunan. Jadi kami tidak terlalu berharap akan terbentuk perkampungan kelinci lagi di halaman rumah kami.
Ternyata keraguan kami tidak terbukti. Beberapa bulan kemudian Moli melahirkan beberapa ekor bayi kelinci. Kami agak terkejut, karena sebelumnya tidak pernah tahu tentang kehamilan Moli. Kalau kata orang zaman sekarang: seperti artis saja, gak tau kapan hamilnya, tahu-tahu sudah punya anak, hehehe ... J
Tapi ternyata, walau pernah memiliki citra "cewek binal", naluri keibuan si Moli besar juga. Ia sangat protektif terhadap anak-anaknya. Kami nyaris tak diizinkan menyentuh mereka. Bayi-bayi kelinci yang masih merah itu ia sembunyikan di sarangnya di bawah tanah, jauh dari jangkauan tangan-tangan manusia.
Sayangnya, bayi-bayi kelinci yang tidak diketahui pasti berapa jumlahnya itu tidak berusia panjang. Entah apa penyebabnya, satu-persatu mereka mati tanpa sempat mencapai usia dewasa. Tak lama Moli si "cewek binal" menyusul pergi untuk selamanya. Aku sendiri tidak ingat penyebab kematian Moli.
Tinggallah si Poni sendirian tanpa teman. Aku perhatikan dia tampak kesepian. Beberapa minggu kemudian, dia mulai menampakkan tanda-tanda akan menyusul Moli. Suatu pagi kami melihat ada luka menganga di bagian paha kaki Poni. Kami menduga ia digigit anjing tetangga. Kian hari wajah dan mata Poni tampak semakin sayu. Ia hanya bisa berbaring saja tanpa daya. Lama-kelamaan luka itu semakin membusuk dan dikerubungi semut merah. Kasihan sekali. L Tak berapa lama Poni pun menutup mata untuk selamanya.
Tamat sudah riwayat perkelincian di rumah kami. Berkali-kali melihat "drama kematian" yang mengenaskan di depan mata membuat kami seperti trauma untuk memelihara kelinci lagi.
Kerinduanku
Malam tadi, dalam tidurku sayup-sayup aku mendengar suara dering telepon. Aku tidak tahu apakah di alam nyata telepon rumahku memang sedang berdering waktu itu. Yang jelas, suara berikutnya yang menyusup gendang telingaku bukanlah suara dari alam nyata. Aku mendengar Ayah memanggil-manggil namaku dengan suara dan gaya khasnya.
Kucoba membuka mata. Namun kedua kelopak mataku terasa berat bagaikan dihimpit batu. Tubuhku juga sulit bergerak. Selama beberapa menit aku berjuang membebaskan diri dari himpitan itu. Aku merasa seperti sedang ketindihan.
Saat akhirnya aku berhasil membuka mata, hanya kesunyian yang menyelimuti suasana. Mataku masih terasa berat. Suara panggilan Ayah kembali terngiang-ngiang di telingaku.
Hampir lima tahun sudah Ayah pergi. Nyaris tanpa pesan. Saat ia menutup mata untuk selama-lamanya, aku sudah berusaha keras mengikhlaskannya. Beberapa hari sebelumnya, doaku kepada Allah memang tak lagi meminta kesembuhannya. Aku hanya meminta yang terbaik. Dan akhirnya Allah memang memberi yang terbaik. Terbaik? Kuakui itu dengan berat hati. Diiringi kalimat penghiburan diri: Bukankah kita tidak pernah tahu rahasia Allah?
Sesaat setelah pemakamannya, aku diam terpekur, menyendiri dalam kamar. Orang-orang dating silih berganti untuk bertakziyah. Telepon tak henti-henti berdering, dari kerabat dan handai taulan yang ingin mengucapkan rasa belasungkawa. Malam terasa mencekam dan banjir air mata. Aku membayangkan, sedang apa Ayah di bawah tanah sana? Sudahkah Munkar-Nakir datang mengunjunginya? Bisakah Ayah menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka? Aku merasa seperti sedang bermimpi. Aku takkan pernah berjumpa Ayah lagi di dunia ini.
Lalu tiba-tiba saja ada sebuah rasa yang menyelusup ke relung hati. Sebuah rasa kehilangan. Pedih dan menyayat-nyayat. Aku baru menyadari, betapa aku sesungguhnya sangat mencintai dan membutuhkan Ayah. Sosoknya yang pendiam bukan berarti tak menyisakan rindu di hati. Meski semasa hidupnya, aku tak pernah menganggapnya sebagai sosok yang istimewa. Aku juga tak pernah merasakan kerinduan yang mendalam kepadanya, meski aku harus berpisah dengannya, merantau ke pulau seberang demi menuntut ilmu di bangku kuliah. Namun entah kenapa, begitu ia pergi untuk selamanya, tiba-tiba saja namanya menempati posisi atas di hatiku. Tiba-tiba ia menjelma menjadi sosok yang begitu istimewa dan tak tergantikan. Tiba-tiba untaian doa-doaku hanya dipenuhi namanya. Sampai aku nyaris lupa mendoakan ibu, orang yang keutamaannya tiga kali lebih besar daripada ayah.
Baru kusadari, tak pernah aku merindukan Ayah sebesar rinduku setelah kepergiannya menghadap Illahi. Setelah ia jauh dan tak tergapai, baru aku merasa kehilangan. Merasa sangat membutuhkannya. Merasa baktiku kepadanya belum ada seujung kuku, sementara ia telah memberiku begitu banyak dengan segenap kasih sayang dan perhatiannya yang tulus. Ah, betapa tidak tahu dirinya aku sebagai anak. :-( :( :-(
dalam dekapan dingin
terpekur
dalam dekapan dingin
gemetar
diterpa angin
aroma tanah basah
semerbak rumput dan dedaunan
merangkum gundah
terbuai dalam penantian
:. Nusa Dewata, 110405, 06.18
"Saya Jangan Lupa Diundang ya, Bu"
Tempo hari aku berkunjung ke Masjid Nurul Huda, sebuah masjid di kawasan Bandara Ngurah Rai yang Insya Allah akan menjadi tonggak tempat aku akan memulai hidup baru beberapa minggu lagi bersama sang belahan jiwa. Kunjungan yang tidak direncanakan sebelumnya, hanya kebetulan saja aku habis menemani Ibu mengantarkan pesanan kue di perkantoran sekitar bandara. Kami pun berbelok mampir ke masjid yang sedang dalam tahap akhir pemugaran itu.
Begitu mobil yang kukendarai memasuki areal parkir masjid, tampaklah pemandangan saudara-saudariku seiman yang sedang mengais rezeki di kompleks tempat ibadah itu. Penjual nasi pecel, penjual minuman, makanan kecil, dan lain-lain. Wajah-wajah lelah, namun kulihat penuh semangat hidup dan cahaya keikhlasan.
"Monggo mampir Bu, minum dulu," sapa penjual minuman, sebut saja namanya Bu Yanto. Beberapa minggu yang lalu, suaminya yang pegawai rendahan di bandara Ngurah Rai itu terserang stroke sampai tidak dapat bekerja dan hanya bisa berbaring saja. Namun atas kemurahan Allah, akhirnya sang suami bisa pulih kembali. Mereka baru saja berhasil melewati masa-masa sulit itu.
Kami pun duduk-duduk sejenak seraya menikmati teh botol dingin yang segar. Tak lama azan berkumandang. Bersama-sama kami melangkahkan kaki menuju masjid untuk menunaikan sholat Dzuhur.
Usai sholat, kami berjalan beriringan ke tempat semula, sambil melontarkan obrolan ringan.
"Bu, nanti saya dikasih tahu ya kalau mulai sibuk masak-memasak. Pasti saya bantu, deh," kata Bu Yanto kepada ibuku. Mereka sedang membicarakan rencana pernikahanku yang tinggal beberapa minggu lagi.
"Insya Allah, pasti dikasih tahu, Bu."
"Ibu mau punya hajat ya katanya?" Mbak Anis, penjual nasi pecel yang suaminya bekerja sebagai penjaga masjid dan petugas cleaning service di bandara, nimbrung.
"Iya, datang ya, Mbak. Kalau saya lupa kasih undangannya, ucapan saya sekarang sebagai undangan resmi. Pokoknya harus datang," sahut ibuku, lalu menyebut tanggal rencana pernikahanku.
Mbak Anis tersenyum senang. "Iya, Bu. Insya Allah saya datang." Lalu lanjutnya, "Monggo dahar dulu, Bu. Seadanya saja," wanita berperawakan mungil itu bersiap-siap meracik bumbu pecelnya.
"Wah, nggak usah repot-repot, Mbak. Kami masih ada urusan lain," tolak ibuku.
Kami pun berpamitan. Mereka melepas kepergian kami dengan senyum tulus dan lambaian tangan penuh rasa persaudaraan. Ah, saudari-saudariku. Aku yakin mereka adalah orang-orang yang dicintai Allah. Mereka pantas ikut menikmati kebahagiaan di hari bahagiaku nanti.
"Saya jangan lupa diundang, ya, Bu. Saya mau bantu apa saja. Jaga mobil, boleh. Bersih-bersih ruangan, boleh," ucapan lugu Pak Anshori, buruh kasar yang merenovasi rumah kami, terngiang-ngiang di telingaku. Kata-kata yang dilontarkan beberapa hari yang lalu itu tiba-tiba membuatku tersenyum haru.
Bu Yanto, Mbak Anis, Pak Anshori. Satu-persatu bayangan mereka menjelma di pelupuk mata. Orang-orang kecil seperti merekalah yang kerap terlupakan dari daftar undangan walimahan. Padahal mereka kecil di mata kita, tapi bisa jadi besar di mata Allah.
Sebab mereka punya hati setulus mentari.
Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya, tetapi meninggalkan orang-orang miskin. (HR. Bukhari)
[IQRO'] Keuntungan Baca Buku
Keuntungan membaca dan menelaah buku:
mengusir keraguan, kecemasan, dan kesedihan menjauhkan diri dari terhanyut dalam kebathilan menghindarkan diri dari pengangguran dan sikap orang-orang yang tidak punya kesibukan melemaskan lidah, melatih berbicara, menghindarkan kekeliruan dalam bertata bahasa, dan menghiasi diri dengan kefasihan berbicara mengembangkan wawasan berpikir, memperbaiki persepsi, dan menjernihkan hati menambah ilmu serta memperkaya hafalan dan pemahaman mengambil manfaat dari pengalaman orang lain, keputusan orang-orang bijak, dan kesimpulan hokum para ulama menumbuhkan bakat mencerna berbagai ilmu pengetahuan dan mengembangkan kemampuan menelaah berbagai kebudayaan yang memberi kesadaran akan perannya dalam kehidupan manusia menebalkan keimanan, khususnya bila membaca buku-buku keislaman, karena sesungguhnya buku itu merupakan pelajaran yang paling besar, peringatan yang paling agung, pencegah kemungkaran yang paling efisien, dan perintah yang paling bijak menenangkan pikiran dari kegalauan, menjaga kalbu dari kekacauan, dan memelihara waktu dari kesia-siaan memperdalam pemahaman tentang makna kalimat, melatih diri menuangkan materi, mengungkapkan tujuan yang terarah dalam berungkap, menunjukkan makna sejumlah kalimat dengan tepatSumber: "JANGAN BERSEDIH, Setelah Kesulitan Ada Kemudahan", bab "Sebaik-baik teman adalah buku", Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qarni.
DUHAI PEMILIK SEGALA CAHAYA ...
4 April
~siang~
Seumur hidup, baru kali ini aku merasa begitu disakiti. Entah setan apa yang tengah merasukinya, hingga kata-kata yang keluar dari mulutnya begitu menghujam sampai ke ulu hatiku.
Aku beristighfar dalam hati, seraya bersusah payah menahan luapan perasaan yang menghentak-hentak. Ingin kumuntahkan luapan itu, namun genangan air bening terlanjur memenuhi rongga mataku. Semua tampak kabur.
Aku melangkah gontai keluar dari rumah itu. Tak sanggup lagi aku memandang lebih lama wajah sinis itu...
~sore~
Bahuku terguncang. Air mata tak henti-henti mengalir. Kata-katanya terus terngiang-ngiang di telingaku. Wajah sinisnya tak mau pergi dari pelupuk mata. Aku terus beristighfar. Berusaha menahan gejolak yang membuatku gelap mata. Astaghfirullah... astaghfirullah...
5 April
~sepertiga malam terakhir~
Robb, apa pun kejadian yang telah menimpa diriku, aku yakin semua itu merupakan bagian dari cara-Mu mendewasakanku. Cara-Mu mengingatkanku bagaimana bersikap terhadap sesama hamba-Mu, bagaimana menjaga lidah agar jangan sampai menusuk hati orang lain, apalagi membuatnya hancur berkeping-keping.
Mungkin ini juga bagian dari sentilan kasih sayang-Mu. Jika aku memang pernah menyakiti hamba-Mu dengan perkataan setajam pedang, ampuni aku ya Allah. Semua memang kesalahanku, dan tak ada yang salah dengan Engkau. Engkau Mahabenar.
Duhai Pemilik Segala Cahaya. Aku berlindung kepada-Mu dari segala penyakit hati yang bisa menjerumuskanku ke dalam jurang kenistaan, ya Robb. Jauhkan aku dari pikiran yang berprasangka, hati yang pendengki, jiwa yang pemurka, serta lisan yang berbisa.
Bukalah mata hati orang yang telah menyakitiku, duhai Cahaya Langit dan Bumi. Jika hatinya sekeras batu, lunakkanlah. Jika pintu hatinya sekokoh baja, ketuklah. Ketuklah dengan kelembutan-Mu agar ia mau menggesernya sedikit sekedar membiarkan cahaya-Mu masuk, walau setitik.
Amin ya robbal aalamiin...
CAHAYA DI ATAS CAHAYA
Lagi mandeg nulis. Tafakur ayat ah ...
4JJ adalah cahaya bagi langit dan bumi. Perumpamaan cahayanya adalah seperti lubang yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu dalam kaca. Dan kaca itu laksana bintang yang berkilauan yang dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkati, yaitu minyak pohon zaitun yang bukan di timur dan tidak (juga) di barat. Minyaknya hampir menerangi sekalipun tidak disentuh api. CAHAYA DI ATAS CAHAYA. 4JJ memberi petunjuk kepada cahaya-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. 4JJ membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia dan 4JJ Maha Mengetahui segalanya. (QS. An-Nuur: 35)
Subhanallaah ...
SEGENGGAM HARAP DALAM UNTAIAN DOA
Tuhanku...
Aku berdoa untuk seorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku. Seseorang yang sungguh mencintai-Mu lebih dari segala sesuatu. Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau. Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk-Mu.
Wajah tampan dan daya tarik fisik tidaklah penting. Yang penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Engkau dan berusaha menjadikan sifat-sifat-Mu ada pada dirinya. Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup sehingga hidupnya tidaklah sia-sia.
Seseorang yang memiliki hati yang bijak tidak hanya otak yang cerdas. Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku. Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi juga dapat menasihatiku ketika aku berbuat salah. Seseorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tapi karena hatiku. Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi. Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika aku di sisinya.
Tuhanku...
Aku tidak meminta seseorang yang sempurna namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna, sehingga aku dapat membuatnya sempurna di mata-Mu. Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya. Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya. Seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya. Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.
Tuhanku...
Aku juga meminta. Buatlah aku menjadi wanita yang dapat membuatnya bangga. Berikan aku hati yang sungguh mencintai-Mu sehingga aku dapat mencintainya dengan sekedar cintaku. Berikanlah sifat yang lembut sehingga kecantikanku datang dari-Mu. Berikanlah aku tangan sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya. Berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dan bukan hal buruk dalam dirinya. Berikanlah aku lisan yang penuh dengan kata-kata bijaksana, mampu memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat dan tersenyum untuk dirinya setiap pagi.
Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan: "Betapa Mahabesarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna.”
Aku mengetahui bahwa Engkau ingin kami bertemu pada waktu yang tepat dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang telah Engkau tentukan. Amin....
Puisi di atas saya dapatkan di sebuah milis. Entah siapa penulisnya. Mohon maaf bagi penulisnya jika saya telah lancang mengutip tanpa izin. Sungguh, saya tergetar ketika pertama kali membacanya. Betapa puisi tersebut mewakili suara hati saya sendiri, yang karena keterbatasan saya, tidak sanggup saya ungkapkan dengan bait-bait doa seindah itu.
Puisi itu juga menyadarkan saya, betapa Allah selalu punya rencana di balik setiap cobaan yang dia timpakan kepada hamba-hamba-Nya. Rencana Allah selalu yang terbaik, sekalipun bagi si hamba terasa pedih di awalnya.
Mahabesar Allah yang hidup-mati kita berada dalam genggaman-Nya...
Seraya “menghitung hari”, jelang “pelepasan sauh” dalam rangka menggenapkan separuh dien…
KEHILANGAN
Pada suatu siang, di salah satu sudut ruang baca fakultas. Belum ada lima menit aku nongkrong di sana untuk membaca, ketika tiba-tiba aku tersentak. Aku lupa telah meninggalkan dompet di dalam tas yang kuletakkan di loker yang tidak terkunci. Bergegas aku keluar untuk mengambilnya. Betapa terkejutnya aku, setelah mengaduk-aduk isi tasku, ternyata dompet tersebut telah raib. Innalillaahi…
Setelah hilang rasa terkejutku, akhirnya aku cuma bisa mengelus dada pasrah. Ini yang kedua kalinya aku kehilangan dompet dengan segala isinya, termasuk surat-surat penting yang bakal ribet mengurusnya nanti.
Aku lalu bercerita pada beberapa teman tentang musibah yang baru saja menimpaku. Reaksi mereka, jelas menampakkan sikap prihatin. Tapi mereka juga terheran-heran, soalnya aku bercerita seraya cengengesan saja. Seperti tak ada kesedihan yang menggayuti hatiku.
Aku pikir-pikir, iya juga, ya. Aku kok merasa biasa saja. Padahal, waktu kehilangan dompet untuk pertama kalinya beberapa tahun sebelumnya, aku merasa panik luar biasa. Ingin menangis, malu karena masih di tempat umum. Mau marah, bingung mau marah sama siapa. Orang rumah yang tinggal di pulau lain langsung kutelepon. Waktu itu, aku berharap sekali dompetku yang berisi surat-surat penting (jumlah uangnya tidak seberapa) itu bisa kembali. Aku bahkan sempat menyumpah-nyumpahi maling yang tidak tahu diri itu.
Tapi kali ini, aku jauh lebih tenang dalam menyikapi musibah ini. Kujawab keheranan temanku itu dengan perkataan kira-kira seperti ini, “Kehilangan dompet (dengan segala isinya) sih nggak seberapa. Aku toh sudah pernah kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga.”
Aku pun terkenang masa-mas awal ketika Ayah pergi selamanya untuk menghadap-Nya. Semua terjadi begitu tiba-tiba. Ibu shock berat. Ibarat rumah, keluarga kami telah kehilangan tiang penyangga yang kokoh. Kehilangan tembok tempat bersandar. Kehilangan atap tempat bernaung. Dan entah ungkapan kehilangan apa lagi yang tepat untuk dikemukakan.
Aku tak akan pernah lupa, bagaimana ujian demi ujian menimpa kami sejak kepergian Ayah. Semua itu membawa banyak hikmah tersendiri bagi kami. Dan yang jelas, membuat kami jauh lebih sabar dan tawakal.
Lalu, setelah aku banyak merenung, aku jadi bertanya-tanya, kenapa sih orang sering kali mengeluh kalau kehilangan sesuatu? Menangis berhari-hari gara-gara ditinggal pacar, kecewa berat waktu gelar bintang kelas disabet sama rival bebuyutan..., dan seterusnya..., dan seterusnya? Kenapa banyak orang kerap lalai untuk merenungkan makna di balik musibah kehilangan yang menimpa dirinya?
Ada satu hal yang bikin hati miris. Pernahkah Anda memperhatikan, kalau sekarang ini begitu banyak orang yang kehilangan sesuatu, tetapi ia sendiri tidak pernah (atau belum?) merasakan hal itu? Itulah yang namanya kehilangan harga diri. Orang sering tidak sadar dengan kehilangan hal yang satu ini, karena justru dengan demikian ia memperoleh kebahagiaan. Lihat saja artis-artis bertipe pencari sensasi. Mereka rela kehilangan harga diri dengan mengumbar aurat ke mana-mana. Menjadikan kemolekan tubuhnya sebagai suatu komoditi yang menghasilkan materi melimpah. Mereka menukar harga dirinya yang seharusnya tak bisa dinilai dengan apa pun. Menukarnya dengan sanjungan, popularitas, pujian, dan—tentu saja—uang dan kemewahan. Sungguh ironis.
Kehilangan... kehilangan... mengapa kita tidak mencoba ikhlas menghadapi kehilangan-kehilangan yang kecil? Mengapa kita tidak berusaha menjadikan kehilangan-kehilangan kecil itu sebagai sarana melatih kesabaran dan keikhlasan? Kelak, seiring dengan perjalanan hidup kita, kita akan banyak mengalami kehilangan-kehilangan besar. Kehilangan ayah, ibu, istri, suami, dan orang-orang yang kita cintai.
Dan jangan lupa. Kelak, ketika saatnya tiba, kita juga pasti akan mengalami kehilangan yang tak mungkin bisa dihindari. Itulah kehilangan nyawa—berpisahnya jasad dari roh. Saat itulah, ada dua kemungkinan yang akan kita alami: penyesalan berkepanjangan karena ulah dan kebusukan kita di dunia, atau kebahagiaan abadi sebagaimana yang telah dijanjikan oleh-Nya. Apa pun pilihannya, semua itu tentunya tergantung amal ibadah kita selama di dunia. Karena itu, kapan pun dan di mana pun, kita harus senantiasa siap menghadapi segala macam dan bentuk kehilangan.
Sebuah renungan ‘tuk diri sendiri