Wednesday, March 23, 2005

CINTA DAN NAFSU

Betapa tipisnya batas antara cinta dan nafsu. Hingga tanpa sadar orang kerap menurutkan nafsunya dengan dalih “cinta”. Berapa banyak muda-mudi yang terperosok gara-gara itu?

Betapa sedihnya, bila orang yang kita cintai lebih mengedepankan nafsunya, sementara kita bersikeras menjaga kesucian cinta itu hingga ijab kabul menyibak sekat-sekat pembatas antara yang halal dengan yang haram.

Betapa menyedihkannya, jika cinta kepada Allah dijadikan sekadar dalih untuk menghalalkan hubungan asmara lawan jenis tanpa terlebih dahulu diikat tali pernikahan.

Lebih menyedihkan lagi jika cinta kepada manusia sampai mengalahkan cinta kepada Allah ... naudzubillah min dzalik

Saturday, March 19, 2005

PRINSIP IBU

Suatu siang—beberapa tahun silam—selepas Dzuhur kulihat Ibu sedang menceramahi Yu Mai, pembantu kami.

“Tadi Ibu melihat Yu Mai ngasih makanan sisa dua hari yang lalu kepada penjahit-penjahit kita,” cerita Ibu ketika kutanya tentang hal tersebut. “Terus, daging ayam yang dipilihkan untuk mereka juga yang kecil-kecil ...”

“Lalu kenapa? Mereka protes ya, Bu?”

“Bukan begitu. Ibu cuma pingin ngajarin Yu Mai supaya menghargai mereka. Mereka itu ibaratnya roda yang menjalankan usaha butik Ibu. Mereka yang bantu kita cari uang. Apa yang kita makan harus sama dengan yang mereka makan ...”

Aku manggut-manggut maklum. Pasalnya, bukan sekali dua kali aku melihat Ibu menceramahi Yu Mai soal yang satu ini. Ibu memang paling tanggap jika menyangkut masalah kesejahteraan para pegawainya. Padahal aku yakin, mereka tidak akan protes sekalipun diberi makanan sisa (asal masih baik dan bisa dimakan) – lagi pula mereka juga tidak akan tahu kalau itu makanan sisa –, dikasih lauk dengan potongan mini, serta berbagai bentuk “ketidakadilan” lainnya. Toh di sini segala kebutuhan mereka sudah dicukupi. Dari mulai tempat tinggal, segala jenis air (air minum, air untuk mandi, air buat nyuci) bebas pakai semaunya, boleh nunut untuk sekedar masak mie di dapur kami yang berfasilitas kompor gas, televisi berwarna di satu ruangan khusus, sampai makan dua kali sehari dengan porsi nasi sesuka hati. Kurang apa lagi coba?

Kadang aku malah berpikir bahwa fasilitas yang diberikan kepada penjahit-penjahit itu kelewat over. Apalagi kalau kulihat tagihan air setiap bulannya yang menunjukkan angka fantastis untuk ukuran rumah tangga, gas untuk kompor yang habis kurang dari seminggu, serta persediaan beras yang cepat sekali menipis. Hal itu sering kali membuat aku geleng-geleng kepala. Tak jarang sebagai calon akuntan, geregetan rasanya aku ingin menerapkan ilmu yang telah kuperoleh di bangku kuliah, dengan cara mengalkulasi kemudian membandingkan pendapatan yang diperoleh Ibu dengan biaya yang dikeluarkan. Istilah kerennya sih, “analisis benefit-cost”. Sayangnya, tiap kali dengan nada serius dan sok tau kutanya berapa omzet yang diperoleh Ibu setiap bulannya dari usaha butik kecil-kecilannya itu, Ibu cuma mengerutkan kening, kemudian tersenyum polos sambil menjawab, “Ibu nggak tau pasti, El. Pokoknya cukuplah buat belanja sehari-hari.” Nah, lho. Gagal deh niatku jadi analis keuangan bagi usaha Ibu.

Aku juga sering melihat pada saat gajian, Ibu ngasih bonus yang lumayan banyak buat mereka. “Dewi itu anaknya rajin dan bertanggung jawab. Finishing-nya rapi lagi. Ibu kasih bonus supaya dia senang dan mempertahankan kualitas pekerjaannya. Menyenangkan hati orang lain itu kan berpahala juga,” demikian kurang lebih alasan Ibu mengapa beliau begitu royal dalam membayar upah pegawai-pegawainya.

Di lain kesempatan, Ibu juga sempat bercerita soal salah satu pegawainya yang WNI keturunan, “Cik Ina itu sebenarnya nggak terlalu potensial. Dulu Ibu terima dia karena kasihan aja. Dia hidup cuma sendiri. Nggak punya suami dan anak. Ternyata toh orangnya baik dan nggak neko-neko. Ya udah Ibu pertahankan aja. Meskipun dari segi finansial Ibu nggak terlalu diuntungkan, tapi apa yang Ibu lakukan ini Ibu niatkan untuk menolong orang lain.”

Pada saat yang lain Ibu juga pernah berkata, “Ibu tuh nggak mau ngoyo, Fi. Biarpun usaha Ibu ini kecil, yang penting kan barokah. Ibu bisa ngasih makan yang layak untuk orang banyak. Bisa mencukupi semua kebutuhan mereka. Biarpun kayaknya pengeluaran Ibu setiap bulannya gila-gilaan, Ibu kok nggak pernah ngerasa kekurangan. Malah Ibu bisa tetap nabung untuk biaya sekolahmu dan adikmu. Barangkali di situ sisi barokah yang Allah anugerahkan ...”

Setelah banyak mendengar pemaparan dari Ibu, aku kemudian jadi sadar bahwa selama ini otakku sudah setengah terdoktrin oleh pemikiran kapitalis dengan prinsip ekonominya. Prinsip ekonomi yang sering, bahkan hampir selalu mengabaikan aspek-aspek sosial dalam mencapai tujuan usaha. Bagaimana bisa memperhatikan aspek sosial, jika tiap kali bertindak kita dituntut untuk mempertimbangkan serta membandingkan secara cermat aspek manfaat dengan biaya yang dikeluarkan. Intinya, prinsip ekonomi telah mengajarkan kita menjadi insan-insan bakhil yang demikian money oriented.

Aku jadi berpikir, kalau saja semua pengusaha di negeri kita tercinta ini punya pandangan dan cara berpikir seperti Ibu, mungkin kita nggak akan pernah mendengar buruh yang merasa tertindas karena diberi upah di bawah standar, demo karyawan perusahaan menuntut kenaikan gaji, pegawai yang mogok kerja gara-gara tuntutannya tidak dipenuhi, serta sejumlah kekacauan lain yang disebabkan oleh sifat pengusaha yang bakhil.

Andai itu benar-benar terjadi, betapa sejahteranya negeri ini ... ***

PENGEMIS DAN KAKEK PENJUAL BOLU

Kampus tempat saya menimba ilmu dulu, saya perhatikan tidak pernah bersih dari yang namanya pengemis. Kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang tua yang lemah. Namun, tak jarang saya juga melihat wajah-wajah muda yang kelihatannya masih kuat untuk bekerja tanpa malu-malu ikut menadahkan tangan kepada para mahasiswa. Dengan modal wajah memelas dan wadah plastik ala kadarnya, mereka menghidupi diri dari hasil mengumpulkan receh demi receh dari segenap anggota civitas akademika.

Saya sendiri, walaupun kurang setuju dengan “profesi” yang mereka jalankan itu, pada mulanya mencoba untuk berpikir positif. Anggap saja mereka sebagai sarana yang mempermudah kita untuk beramal. Karena tanpa mereka, kita tidak bisa bersedekah. Melalui perantara merekalah kita bisa mengadakan “perniagaan” dengan Allah, sebagaimana firman-Nya yang tercantum dalam Al Qur’an. Namun demikian, saya sering kecewa jika melihat kenyataan bahwa banyak di antara pengemis-pengemis itu membelanjakan harta hasil belas kasihan orang-orang dengan cara yang kurang baik. Misalnya, untuk membeli rokok. Akibatnya, saya jadi kurang sreg kalau harus menyisihkan jatah bulanan saya yang terbatas untuk orang-orang semacam itu.

Suatu hari, saya melihat sebuah pemandangan yang membuat hati sangat trenyuh. Seorang kakek tua, dengan langkah tertatih-tatih dan suara paraunya menjajakan dagangannya berkeliling kampus. Saya yakin, tubuhnya yang sangat kurus dan renta itu pasti mengundang rasa iba bagi siapa pun yang mengaku dirinya manusia. Terbukti, setiap kali kakek tua itu lewat di depan segerombolan mahasiswa, para mahasiswa pasti langsung terdiam dan menatap dengan pandangan iba. Tak jarang, tanpa dikomando mereka langsung merogoh kocek masing-masing untuk membeli roti bolu dagangan kakek tua itu.

Lama-kelamaan, keberadaan kakek tua itu menjadi terkenal di seantero kampus. Walaupun pemandangan seorang kakek tua dengan dagangan bolunya kemudian menjadi hal biasa, namun rasa iba di hati kami tak pernah sirna. Termasuk saya. Kadang jika ada rizki berlebih, saya rela menukarkan selembar ribuan milik saya dengan sebungkus roti bolu dagangannya. Lumayanlah, sambil beramal perut pun terganjal (apalagi kalau belum sempat sarapan).

Suatu hari, saat sedang mengobrol dengan kakak kelas saya yang seorang jilbaber, kakek penjual bolu itu lewat di hadapan kami.

“Kasihan ya Mbak, kakek itu,” ujar saya kepada kakak kelas saya itu.

Namun apa jawaban yang saya terima? Dengan sinis dia berkata, “Apa? Kasihan? Biar saja, dia kan nonmuslim!”

Astaghfirullah! Tidak, saya terkejut bukan karena ternyata kakek tua itu tidak seaqidah dengan saya. Namun, saya kaget karena seorang muslimah dengan jilbab dan jubah lebar seperti kakak kelas saya itu, ternyata memiliki pandangan yang demikian sempit. Bukankah Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk menolong sesama tanpa memandang latar belakangnya, baik itu suku, agama, maupun faktor-faktor lainnya? Lagipula, kita tidak pernah bisa meramal akhir dari kehidupan seseorang. Siapa yang sangka suatu saat kakek tua itu mendapat hidayah dari Allah, dan menghadap-Nya dalam keadaan khusnul khotimah?

Saya jadi ingin membandingkan kakek penjual roti bolu itu dengan para pengemis yang bertebaran di kampus kami. Di mata saya, kakek itu, apa pun agamanya, jauh lebih mulia, karena dia tidak mau mengemis untuk menghidupi dirinya. Dia makan dan minum dari hasil usaha dan keringatnya sendiri, yang tentunya jauh lebih barokah daripada hasil menadahkan tangan kepada orang lain.

Dalam hati, saya berdoa supaya Allah memberikan hidayah kepada kakek tua yang tabah itu.***