Thursday, January 13, 2005

DI MANA CINTA

Cinta ...
Di manakah engkau?
Ke mana kucari?

Lama kumenanti
Lalu kau datang tiba-tiba
Membawa sejuta asa
Dan kemudian malah pergi
Kau biarkan aku menunggu
Terombang-ambing ...

Cinta, jangan biarkan aku terus menunggu ...





AIR MATA JATUH SATU-SATU

Air mata jatuh satu-satu
Saat memori berputar ke masa lalu
Di sini di atas bumi suci-Mu
Hamba pernah melanggar larangan-Mu
Nafsu mengalahkan rasa malu
Hidup penuh rasa iri dan cemburu
Dosa bukan lagi jadi barang baru

Air mata jatuh satu-satu
Terkenang sajadah yang teronggok di pojok
Al Qur’an yang tak pernah ditengok
Jiwa yang kikir dan sok
dalam hati yang berselimut borok

Air mata jatuh satu-satu
Yang berasal dari bendungan dosa
dan bermuara pada lautan penyesalan

Air mata jatuh satu-satu
Tergugu hamba di sini
Di atas sajadah kumal berdebu
Dalam dingin malam yang sunyi

Akankah kugapai cinta Illahi
Sementara jiwa kerontang ini
pernah membuang hati nurani
Akankah Rabbi mau jadi kekasih tambatan hati
Sedang diri jauh dari suci

Malang, 13 Mei 2001

CIPTAAN RABBI-KU

Kicauan burung adalah nyanyian pagi
Dalam kabut dingin berselimut sepi
Sepi yang indah karena menjemput damai
Damai dalam dekapan sang mentari

Kupu-kupu siang adalah pendar-pendar keindahan
Dalam buncahan warna-warni sayap keelokan
Di antara binar-binar nuansa keagungan-Nya

Serangga malam adalah kesayanganku
Sebab ia menambah suasana syahdu
dalam sujudku kehadirat Kekasih-ku

Pepohonan bagaikan nafas kehidupan
Yang dengan kehijauannya menyirami makhluq
dengan hawa kesejukan
Ibarat dicelupkan dalam air suci
pada telaga cinta kasih Illahi

Ciptaan Rabbi-ku adalah keindahan
Ciptaan Rabbi-ku adalah kesejukan
Ciptaan Rabbi-ku adalah KEAGUNGAN
Dan KEAGUNGAN adalah
Rabbi-ku


Malang, 13 Mei 2001





Wednesday, January 12, 2005

MEDAN JIHADKU

Pfuhh ... leganya ...

Hari ini satu naskah terjemahan selesai sudah. Walaupun satu naskah lain masih menanti untuk diterjemahkan. Dan, lagi-lagi soal perang. Kalau novel yang baru saja selesai kuterjemahkan berlatar Perang Teluk, maka naskah selanjutnya yang mesti kugarap adalah tentang konflik berkepanjangan yang berkecamuk antara Palestina dan Israel; sebuah buku harian (diari) “Ramallah Under Siege”. Dua-duanya memiliki benang merah yang sama: Muslim yang tertindas. Saat lembar demi lembar naskah kuterjemahkan, isinya pun menjelma menjadi sebuah “film” yang terputar di kepalaku. Semua tampak nyata di benakku, seolah-olah aku ikut merasakan penderitaan saudara-saudaraku sesama Muslim di belahan dunia nun jauh di sana.

“Tolong ya, bahasanya dibuat mengalir,” pesan si mas editor tentang naskah berlatar konflik Palestina-Israel itu. Aku pun memahami maksudnya. Tentu saja, dia ingin pembaca terkesan saat membaca buku itu dan mampu menangkap pesan moral yang terkandung di dalamnya. Dan ini sesuai dengan niatku saat memutuskan untuk terjun di dunia penerjemahan buku. Aku tak ingin lepas dari medan jihad bil qolam yang semasa kuliah dulu sempat kutekuni dengan menjadi penulis lepas di sebuah media dakwah. Sayangnya, entah kenapa belakangan otakku kerap buntu jika dihadapkan pada tantangan menulis. Ketika kesempatan untuk terjun ke dunia penerjemahan buku terbuka, aku pun tidak menyia-nyiakannya. Walaupun di masa-masa awal aku dihadapkan pada tantangan yang sangat berat, mengingat latar belakang pendidikanku sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan dunia bahasa dan tulisan. Aku lulusan Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi di sebuah PTN di kota Apel, Malang. Kalau dipikir-pikir, dunia angka dan dunia kata benar-benar dua dunia yang sangat bertolak belakang. Teman-temanku pun banyak yang terheran-heran dan menyayangkan “pembelotan”-ku.

Tapi aku tidak mau menyerah. Walau harus tertatih-tatih melangkah. Pikirku, dengan terus berkecimpung dalam dunia buku, energi menulisku sedikit demi sedikit akan kembali bangkit sehingga bisa melahirkan karya-karya yang mencerahkan umat. Aku pun berdoa kepada Allah agar diberikan yang terbaik.

Jika di awal-awal aku hanya berani menerjemahkan naskah yang berhubungan dengan disiplin ilmuku—yang berkaitan erat dengan bisnis, manajemen, keuangan—lama-kelamaan aku merasa jenuh karena tidak menemukan sesuatu yang baru di sana. Aku justru merasa turut serta dalam barisan kampanye pola pikir hedonis yang serba materialistis. Ini membuat semangatku sempat kendur. Aku mulai ragu untuk melanjutkan profesi ini.

Akhirnya Allah menjawab doaku. Tawaran mulai berdatangan untuk menerjemahkan naskah dengan jenis serta tema yang lebih beragam dan sesuai dengan hati nuraniku. Penerbitnya pun Insya Allah jauh lebih terpercaya dan bertanggung jawab, karena mengusung nilai-nilai Islam yang mencerahkan. Aku mulai menerima tantangan menerjemahkan novel, psikologi populer, dengan sejumlah tema yang menambah wawasanku. Barulah aku merasa mendapatkan “sesuatu” ...

Sesuatu yang membuatku bisa berkata: Inilah medan jihadku ...






Monday, January 10, 2005

BIDADARI

Seorang temanku berkomentar tentang rekaman video Cut Putri, seorang gadis Aceh yang sempat mengabadikan detik-detik Tsunami 26 Desember 2004 silam dengan handycam-nya di Bumi Serambi Mekkah.

“Aku pernah merasakan kengerian seperti diterjang gulungan ombak,” katanya. Lalu ia bercerita tentang bagaimana beberapa tahun silam dirinya nyaris tewas terbawa arus di sebuah sungai yang terletak di daerah Pujon, Malang (Jatim). Waktu itu ia sudah pasrah kalau memang sudah waktunya Izrail mencabut nyawanya. Syukurlah, pertolongan Allah datang. Dia selamat, sehat walafiat, dan masih diberi kesempatan untuk menghirup udara dunia sampai hari ini.

“Eh, tahu nggak,” ujarku. “Salah satu yang tergolong mati syahid adalah mati karena tenggelam. Andai waktu itu kamu dipanggil Allah, pasti sekarang ini kamu lagi bercengkerama ria dengan bidadari-bidadari surga,” aku berkata dengan nada bercanda.

“Iya kali,” dia tersenyum simpul. “Ah, tapi lebih asyik bercengkerama dengan Bidadari X,” dia menyebut nama calon istrinya.

Mau tak mau aku jadi ikut tersenyum. “Ya lebih asyik bidadari surga, dong. Mereka tiada duanya.” Aku mengingat-ingat semua tulisan yang pernah kubaca yang menggambarkan tentang sosok bidadari-bidadari surga. Jelas mereka adalah makhluk Allah yang sempurna, jauh melebihi “bidadari-bidadari” dunia paling cantik sekali pun.

“Sebaik-baik bidadari adalah istri sholehah,” kelitnya, masih sambil tersenyum-senyum simpul.

Entah dari mana dia mengutip kata-kata itu. Tapi ada sesuatu yang menggelitik hatiku. Ah, dasar manusia. Selalu cenderung terpaku pada sesuatu yang nampak secara fisik.

Lihatlah, saat gelombang raksasa tsunami itu datang meluluhlantakkan Tanah Rencong. Semua orang menangis, meratap, menyesali, menganggap Aceh negeri termalang di dunia. Mengapa musibah itu menimpa orang-orang tak berdosa? Mengapa harus Aceh? Mengapa bukan Las Vegas? Tulis seorang penyair dalam puisinya.

Karena anugerah mati syahid terlalu mulia untuk orang-orang Las Vegas, demikian jawaban singkat namun bijak dari seseorang.

Ya, kita menangisi mereka yang berpulang karena musibah itu. Padahal mereka kini justru tengah berbahagia di sana, di sebuah tempat yang jauh lebih baik, di sisi Allah yang mengasihi mereka. Mereka bersama bidadari-bidadari surga. Tak ada lagi derita, tak ada lagi nestapa.