Sunday, April 10, 2005

"Saya Jangan Lupa Diundang ya, Bu"

Tempo hari aku berkunjung ke Masjid Nurul Huda, sebuah masjid di kawasan Bandara Ngurah Rai yang Insya Allah akan menjadi tonggak tempat aku akan memulai hidup baru beberapa minggu lagi bersama sang belahan jiwa. Kunjungan yang tidak direncanakan sebelumnya, hanya kebetulan saja aku habis menemani Ibu mengantarkan pesanan kue di perkantoran sekitar bandara. Kami pun berbelok mampir ke masjid yang sedang dalam tahap akhir pemugaran itu.

Begitu mobil yang kukendarai memasuki areal parkir masjid, tampaklah pemandangan saudara-saudariku seiman yang sedang mengais rezeki di kompleks tempat ibadah itu. Penjual nasi pecel, penjual minuman, makanan kecil, dan lain-lain. Wajah-wajah lelah, namun kulihat penuh semangat hidup dan cahaya keikhlasan.

"Monggo mampir Bu, minum dulu," sapa penjual minuman, sebut saja namanya Bu Yanto. Beberapa minggu yang lalu, suaminya yang pegawai rendahan di bandara Ngurah Rai itu terserang stroke sampai tidak dapat bekerja dan hanya bisa berbaring saja. Namun atas kemurahan Allah, akhirnya sang suami bisa pulih kembali. Mereka baru saja berhasil melewati masa-masa sulit itu.

Kami pun duduk-duduk sejenak seraya menikmati teh botol dingin yang segar. Tak lama azan berkumandang. Bersama-sama kami melangkahkan kaki menuju masjid untuk menunaikan sholat Dzuhur.

Usai sholat, kami berjalan beriringan ke tempat semula, sambil melontarkan obrolan ringan.

"Bu, nanti saya dikasih tahu ya kalau mulai sibuk masak-memasak. Pasti saya bantu, deh," kata Bu Yanto kepada ibuku. Mereka sedang membicarakan rencana pernikahanku yang tinggal beberapa minggu lagi.

"Insya Allah, pasti dikasih tahu, Bu."

"Ibu mau punya hajat ya katanya?" Mbak Anis, penjual nasi pecel yang suaminya bekerja sebagai penjaga masjid dan petugas cleaning service di bandara, nimbrung.

"Iya, datang ya, Mbak. Kalau saya lupa kasih undangannya, ucapan saya sekarang sebagai undangan resmi. Pokoknya harus datang," sahut ibuku, lalu menyebut tanggal rencana pernikahanku.

Mbak Anis tersenyum senang. "Iya, Bu. Insya Allah saya datang." Lalu lanjutnya, "Monggo dahar dulu, Bu. Seadanya saja," wanita berperawakan mungil itu bersiap-siap meracik bumbu pecelnya.

"Wah, nggak usah repot-repot, Mbak. Kami masih ada urusan lain," tolak ibuku.

Kami pun berpamitan. Mereka melepas kepergian kami dengan senyum tulus dan lambaian tangan penuh rasa persaudaraan. Ah, saudari-saudariku. Aku yakin mereka adalah orang-orang yang dicintai Allah. Mereka pantas ikut menikmati kebahagiaan di hari bahagiaku nanti.

"Saya jangan lupa diundang, ya, Bu. Saya mau bantu apa saja. Jaga mobil, boleh. Bersih-bersih ruangan, boleh," ucapan lugu Pak Anshori, buruh kasar yang merenovasi rumah kami, terngiang-ngiang di telingaku. Kata-kata yang dilontarkan beberapa hari yang lalu itu tiba-tiba membuatku tersenyum haru.

Bu Yanto, Mbak Anis, Pak Anshori. Satu-persatu bayangan mereka menjelma di pelupuk mata. Orang-orang kecil seperti merekalah yang kerap terlupakan dari daftar undangan walimahan. Padahal mereka kecil di mata kita, tapi bisa jadi besar di mata Allah.

Sebab mereka punya hati setulus mentari.

Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah yang hanya mengundang orang-orang kaya, tetapi meninggalkan orang-orang miskin. (HR. Bukhari)