Kelinciku Sayang, Kelinciku Malang
Peternakan Kelinci
Saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, Ayah (almarhum) membeli sepasang kelinci untuk dijadikan hewan piaraan. Aku senang karena punya "mainan" baru yang membuatku kerap tak sabar untuk cepat pulang ke rumah. Sepulang sekolah, buru-buru aku berganti baju. Lalu tenggelam dalam keasyikan memberi makan piaraan kami yang baru. Tiap hari ibu membeli berikat-ikat kangkung, sayuran yang relatif murah dan tidak semahal wortel yang konon merupakan makanan favorit para kelinci. Tapi ternyata berdasarkan pengamatan, kelinci itu doyan apa saja, kok. Kangkung, bayam, kulit timun, kulit semangka, tanaman di pot..., apa saja yang berjenis buah dan tumbuhan dilahapnya dengan rakus. Akhirnya, demi penghematan tidak setiap hari kami membeli sayuran khusus untuk makanan kelinci. Tak ada kangkung, kulit timun bolehlah. No problem. Mereka tetap sehat dan montok.
Tanpa diduga-duga, kelinci yang tadinya cuma berjumlah dua ekor, mulai berkembang biak dengan cepat. Jumlahnya berlipat dari dua menjadi lima, sepuluh, lima belas, sampai akhirnya lebih dari dua puluh ekor. Warna bulunya pun beragam. Ada yang putih, abu-abu, coklat, dan belang-belang. Halaman rumah kami yang luas jadi seperti peternakan kelinci. Ayah pun akhirnya membuat kandang khusus di bawah pohon mangga yang rindang.
Kebetulan rumah kami waktu itu berada di sebuah kompleks perumahan dinas yang tertutup dan bebas dari lalu lalang kendaraan, sehingga kelinci-kelinci itu cukup bebas berkeliaran di jalan-jalan depan rumah kami. Sayangnya, mereka kerap tidak menyadari bahaya yang mengintai. Sebagaimana wilayah lainnya di Pulau Bali, daerah tempat tinggalku pun tak luput dari keberadaan anjing-anjing liar yang gemar mencari mangsa di mana-mana. Kelinci-kelinciku tentu saja merupakan mangsa empuk bagi mereka. Satu-persatu, kelinci-kelinci tak berdosa itu menjadi korban. Jika tidak dimangsa hidup-hidup, ada bagian tubuh yang terluka karena gigitan anjing. Betapa tidak teganya mendengar jeritan kelinci-kelinci itu saat tubuh mereka yang tak berdaya meronta-ronta dalam cengkeraman kuat rahang anjing yang sedang kelaparan. Ingin menangis rasanya melihat mereka terbaring lemah dengan luka menganga di kaki, yang kian hari kian membusuk dan akhirnya merenggut nyawa mereka secara perlahan-lahan. Oh, kelinci-kelinciku yang malang. L
Gara-gara anjing-anjing liar itu, satu demi satu kelinci-kelinci kami yang lucu menemui ajalnya dan akhirnya habis sama sekali. Dengan berat hati, kandang mereka dibongkar. Peternakan kelinci pun tinggal kenangan.
Poni dan Moli
Beberapa tahun kemudian, Ayah kembali membeli sepasang kelinci. Yang satu betina berwarna coklat, kami beri nama Moli. Pasangannya berwarna putih, kami beri nama Poni. Bila kuperhatikan, mereka adalah dua ekor kelinci yang memiliki karakter bertolak belakang. Si Moli tampak lincah, agresif, dan kecentilan. Sementara si Poni terlihat tidak bergairah dengan sepasang mata menyorot sayu, bagaikan tidak memiliki semangat hidup. Jika Moli melompat-lompat lincah di sampingnya, Poni hanya diam saja. Poni lebih suka berbaring tenang seraya matanya menatap kosong ke depan. Melihat si jantan Poni yang pasif ini, kami jadi ragu apakah mereka bisa menghasilkan keturunan. Jadi kami tidak terlalu berharap akan terbentuk perkampungan kelinci lagi di halaman rumah kami.
Ternyata keraguan kami tidak terbukti. Beberapa bulan kemudian Moli melahirkan beberapa ekor bayi kelinci. Kami agak terkejut, karena sebelumnya tidak pernah tahu tentang kehamilan Moli. Kalau kata orang zaman sekarang: seperti artis saja, gak tau kapan hamilnya, tahu-tahu sudah punya anak, hehehe ... J
Tapi ternyata, walau pernah memiliki citra "cewek binal", naluri keibuan si Moli besar juga. Ia sangat protektif terhadap anak-anaknya. Kami nyaris tak diizinkan menyentuh mereka. Bayi-bayi kelinci yang masih merah itu ia sembunyikan di sarangnya di bawah tanah, jauh dari jangkauan tangan-tangan manusia.
Sayangnya, bayi-bayi kelinci yang tidak diketahui pasti berapa jumlahnya itu tidak berusia panjang. Entah apa penyebabnya, satu-persatu mereka mati tanpa sempat mencapai usia dewasa. Tak lama Moli si "cewek binal" menyusul pergi untuk selamanya. Aku sendiri tidak ingat penyebab kematian Moli.
Tinggallah si Poni sendirian tanpa teman. Aku perhatikan dia tampak kesepian. Beberapa minggu kemudian, dia mulai menampakkan tanda-tanda akan menyusul Moli. Suatu pagi kami melihat ada luka menganga di bagian paha kaki Poni. Kami menduga ia digigit anjing tetangga. Kian hari wajah dan mata Poni tampak semakin sayu. Ia hanya bisa berbaring saja tanpa daya. Lama-kelamaan luka itu semakin membusuk dan dikerubungi semut merah. Kasihan sekali. L Tak berapa lama Poni pun menutup mata untuk selamanya.
Tamat sudah riwayat perkelincian di rumah kami. Berkali-kali melihat "drama kematian" yang mengenaskan di depan mata membuat kami seperti trauma untuk memelihara kelinci lagi.





Enjoyed a lot! Casino craps games mac os roof rack for wrx calling cards cheap international Nissan xterra running boards or nerff bars Top 10 radar detectors for 2006 Foreign pharmacy meridia latin brew beer Prestige license plate frames Discount roof racks spongebob square pants How to start using pay per click 1998 camry body kit suv roof racks Restaurant blouses nom marques roof+rack+renault+traffic Oldsmobile ss1 wheel 15x7 car alarm for chevy camaro cavalier corvette impala
aku juga punya kelincii. lucu deh. sepasang rexs. baru disapih sebulan yg lalu. smoga rexs2ku itu ga ketemu anjing ato kucing ato apa aja yg bikin nasip mereka tragis.
You have an outstanding good and well structured site. I enjoyed browsing through it » »
sorry ya mbak udah tahu banyak anjing liar ngapa gak dikandangin lagi aja, tetap dibiarin berkeliarin,...makanya aku heran baca komen mbak...
buat kandang yang rada besar gitu...