Tuesday, September 12, 2006

[woro-woro] "Pindah Rumah"

Temans 'n Rekans,
H
"rumah maya"
saya pindah ke 

sini



Silahkan mampir ... tapi harap maklum kalo
masih berantakan, maklum baru pindahan ...

J

Thursday, May 12, 2005

[AGENDA] 4 in 1





Kemarin dapat kiriman file attachment dari Teh Pipiet Senja. Wow! Dua buah cover buku yang keren banget!!! Wah, ada apa nehh... gak biasa-biasanya dapat kiriman kayak gini. Ada apa gerangan?


TERNYATA...


Ahad, 15 Mei 2005 besok Insya Allah FLP Bali bakal punya gawe. Kita kedatangan 3 'selebritis' FLP: Kang Irfan Hidayatullah (penulis, ketum FLP), Mbak Helvy Tiana Rosa (penulis, mantan ketum FLP), dan The Pipiet Senja (penulis).

Acaranya? Di samping deklarasi FLP Bali, bakal ada launching buku terbaru Teh Pipiet "Meretas Ungu" dan antologi milad ke-8 FLP yang judulnya "Ketika Cinta Menemukanmu" (Helvy Tiana Rosa dkk). Dua-duanya diterbitkan oleh GIP. Terus, bakal ada talk show pula dengan pembicara ketiga penulis di atas. Oya, ada bazaar buku juga.

Buat segenap panitia dan tim sukses, semoga sukses yach acaranya... amiennn...

Friday, April 29, 2005

Nulis yuk, nulis!

 
Dalam emailnya kemarin seorang redaktur majalah remaja Islami berkata kepadaku: Kok udah lama gak kirim cerpen ke Annida, Ka? Kirim lagi dong, yang khas-khas Bali, gitu :)

Aku jadi senyum-senyum sendiri. Apalagi waktu si mbak redaktur mengungkapkan keinginannya untuk datang ke Bali, karena seumur-umur belum pernah sekali pun dia menjejakkan kaki di Pulau Dewata tempat aku lahir dan dibesarkan ini. Padahal dalam novel perdananya yang terbit baru-baru ini, dia menulis beberapa adegan yang bersetting Bali (emang jadi penulis itu kudu 'sok tau' ya Mbak, hehehe...).

Hmmm... dipikir-pikir emang enak jadi penulis. Bisa 'berkhayal' sepuasnya, bisa 'berlagak' seolah-olah kita pernah pergi ke sebuah tempat nun jauh di sana yang belum pernah sekali pun kita kunjungi J. Apa lagi di era TI macam sekarang, berbagai informasi bisa kita peroleh secara instan. Tinggal klik sana klik situ, dalam hitungan detik setumpuk info yang kita butuhkan sudah tersaji lengkap di depan mata. Enak nian jadi penulis zaman sekarang! J

Hmmm..., nulis lagi, ah. Nulis yuk, nulis! Hidup nulis! J


!!!

Thursday, April 28, 2005

[ETALASE] “THE SANDHILLS OF ARABIA: Takdir yang Terenggut”






Judul: "THE SANDHILLS OF ARABIA: Takdir yang Terenggut"

Penulis: Laila Hasib
Penerjemah: Elka Ferani
Penyunting: Prayudi
Penerbit: Pustaka Zahra (Jakarta)
Lini Produk: Zahra Novel
Cetakan: 01, April 2005
Jumlah Halaman: 358
Dimensi: 11,5 x 17 cm
ISBN: 979-98470-5-2
Harga: Rp 34.500




“Nama aslimu adalah Zahida Abdul Nur. Sekarang, apa yang akan kau lakukan? Akankah kau tetap menjadi Mary O’Brien? Atau akankah kau menemukan dirimu yang sebenarnya?” Syahidah menangis pelan saat Mary bertolak pergi dengan menunggang untanya. Jilbabnya berkibar-kibar ditiup angin. Ia tidak akan pernah tahu apakah Mary memilih Islam dan menemukan kedua orang tua kandungnya. Setidaknya aku telah menemukan diriku yang sebenarnya, pikir Syahidah sambil membolak-balik botol kecil berisi pasir negeri Kuwait di saku pakaiannya.

***

Dituturkan dengan amat apik, The Sandhills of Arabia menghadirkan kisah yang benar-benar mengharukan tentang teguhnya persahabatan dua orang gadis di sahara. Di tengah suasana perang, Syahidah, seorang gadis Muslim yang kehilangan ayah dan tengah mencari jati diri, merajut tulusnya persahabatan dengan Mary, seorang gadis yang sejatinya terlahir dari keluarga Muslim namun diadopsi oleh seorang misionaris Kristen.

Kisah cinta, persahabatan, dan perjuangan mereka untuk bertahan hidup di tengah-tengah suasana perang dan ganasnya sahara benar-benar bakal menguras simpati dan keharuan Anda. Dikisahkan bagaimana Syahidah—yang terpaksa mengungsi bersama adik dan ibunya yang tengah hamil tua—justru menemukan cintanya di tengah carut-marutnya peperangan. Sementara Mary, harus menghadapi kenyataan pahit bahwa takdirnya telah terenggut, terenggut oleh ayah adopsinya....

***


Mau tahu koleksi lain dan cara dapat diskon? Klik di sini

Wednesday, April 27, 2005

Akan menikah ...

ZRinduku yang membuncah. Menjelang terlabuh. Ya Allah bimbing kami selalu. Teduhi aku dan belahan jiwaku. Dekap kami dalam hangat cahaya-Mu ...Z






Akad nikah insya Allah akan dilaksanakan pada Ahad, 22 Mei 2005, bertempat di Masjid Nurul Huda, Bandara Ngurah Rai - Bali, pukul 09.00-10.00 wita. Setelah itu dilanjutkan dengan walimatul ursy pada pukul 11.00-13.00 wita, bertempat di Gedung Serbaguna PT(Persero) Angkasa Pura I, Bandara Ngurah Rai - Bali.


Mohon doa restu.


Elka & Heru


ZRinduku yang membuncah. Menjelang terlabuh. Ya Allah bimbing kami selalu. Teduhi aku dan belahan jiwaku. Dekap kami dalam hangat cahaya-Mu ...Z

Saturday, April 23, 2005

TELAGA BENING CINTA BUNDA






Y Kebahagiaan seorang bunda adalah bila
buah hatinya senantiasa dekat dengannya Y


Aku baru menyadarinya siang itu, sepulang mengambil setumpuk undangan walimah yang desainnya kupilih bersama-sama Ibu. Sambil tetap berkonsentrasi menyetir di keramaian lalu lintas, kulirik Ibu yang membisu di sampingku. Kepala Ibu tertunduk, lekat tertuju pada kertas merah jambu di tangannya.

Ada telaga di mata ibu. Bening dan mulai meluap. Setetes demi setetes. Membanjiri pipi Ibu yang mulai berkerut digilas roda usia. Aku menduga ibu sedang menangis bahagia. Atau sedih? bisik hati kecilku gundah.

Kucoba mencari tahu dengan bertanya pelan kepadanya.

Ibu tersipu seraya mengusap lelehan bening itu. Mulailah beliau mencurahkan isi hatinya.

"Waktu kamu harus pergi meninggalkan Ibu untuk kuliah di kota lain, berhari-hari Ibu gelisah dan tidak bisa tidur. Tapi ayahmu berusaha menghibur Ibu. Kata Ayah, memang sudah waktunya kamu pergi dan lepas dari kami. Kelak bila tiba waktunya, kamu juga akan dibawa pergi suamimu," tutur Ibu bergetar. Lalu ia terdiam. Undangan merah jambu itu kini tergeletak di pangkuannya.

"Akhirnya saat yang dikatakan ayahmu tiba juga...," lanjutnya lirih.

Aku tertegun. Mencoba berempati. Membayangkan jika aku berada di posisinya. Andai aku adalah seorang wanita yang telah ditinggal wafat suami tercinta, yang di rahimnya pernah dititipkan tiga buah hati yang kini telah beranjak dewasa. Si sulung yang kini menetap jauh di kota metropolitan. Si bungsu yang sedang menjalani kuliah tingkat akhir di kota lain. Dan ada si anak tengah, yang belum lama ini kembali ke "pangkuan"-nya setelah lima tahun lebih merantau ke pulau seberang demi menuntut ilmu. Tiba-tiba saja ada seorang pria, yang berstatus "bukan siapa-siapa", akan membawa pergi gadis yang baru saja menginjak usia seperempat abad itu.

Bukan siapa-siapa?

Aku menghela napas. Si anak tengah itu adalah aku. Dan pria yang "bukan siapa-siapa" itu adalah calon suamiku. Namun saat aku "dibawa pergi" olehnya nanti, statusnya telah berubah menjadi suamiku, seorang lelaki yang kepadanya kupersembahkan seluruh baktiku. Seorang lelaki yang haknya atas diriku melampaui hak wanita yang melahirkanku.

Aku tahu Ibu mengerti itu.

Karena Ibulah yang mengajariku tentang kewajiban berbakti pada suami. Tidak hanya dengan kata-kata, namun juga dengan teladannya semasa ayahku masih hidup. Aku dapat merasakan, betapa Ibu telah membuktikan cinta dan kesetiannya kepada Ayah, satu-satunya belahan jiwanya. Maka tak heran jika Ibu kerap menyebut nama almarhum Ayah dengan nada kerinduan. Lelaki yang telah mewariskan harta tak ternilai harganya: putra-putri penyejuk hati. Setelah Ayah berpulang, kepada siapa lagi ibu menaruh harapan selain kepada ketiga buah hatinya?

Namun waktu telah mengubah segalanya. Kini sang buah hati tak lagi bisa selalu berada di dekatnya. Maka tak jarang aku mendengar ibu berkata dengan nada sedih, "Rasanya Ibu lebih bahagia waktu kalian masih kecil. Ibu benar-benar dibutuhkan oleh kalian waktu itu. Tapi sekarang..."

Lantas dari mulutnya meluncurlah cerita-cerita kenangan saat aku masih kecil. Saat aku minta diantar pada hari pertama sekolah. Ketika aku minta dipasangkan pita di rambutku. Waktu aku merengek agar dibacakan buku cerita pengantar tidur. Bukan permintaan yang istimewa, namun bagi Ibu itulah masa-masa ketika perannya sebagai seorang bunda benar-benar dibutuhkan.

Sementara itu, di lain waktu Ibu pernah mengeluhkan sikap anak-anaknya yang kerap "melupakannya". Jarang berkirim kabar, walau sekadar sapaan singkat yang dilayangkan lewat SMS. Mungkin kedengarannya sepele. Tapi bagi ibuku, yang kukenal sebagai wanita yang sangat perasa, itu adalah kenyataan yang menyakitkan. Seakan-akan kami, anak-anak yang dibesarkannya dengan susah-payah, tak lagi membutuhkannya. Tak lagi merindukan dan membutuhkan belai kasihnya.

Diam-diam ada rasa bersalah yang menyelusup ke kisi-kisi hatiku.

Siang semakin menjemput terik. Keruwetan lalu lintas seolah tak berujung. Perjalanan terasa panjang. Aku dan Ibu sama-sama membisu. Kami hanya berbicara dengan bahasa kalbu. Mungkin karena lidah kami sama-sama kelu.

"Tapi walau sedih, Ibu bahagia, Nak," suara Ibu memecah keheningan. Didekapnya kertas merah jambu itu di dadanya. Seulas senyum menghiasi wajahnya yang teduh. Ibu seperti bisa membaca kegundahan hatiku. Aku tahu Ibu berusaha keras menyembunyikan kesedihannya.

Ah, Ibu. Bunda mana yang tidak bahagia melihat anaknya bahagia? Aku tahu, Ibu adalah orang yang paling berbahagia mengantarkanku melepas sauh untuk mengayuh biduk rumah tangga. Meski restu yang ia beri harus ditukar dengan kesunyian hari-harinya tanpa keberadaan diriku lagi di sampingnya.


Y Maka hari itu pun aku belajar satu hal lagi tentang
keikhlasan seorang bunda, yang di hatinya bermuara
telaga bening cinta yang tak pernah kering Y




Thursday, April 21, 2005

ibu doakanlah

 
ibu doakanlah ku akan melangkah
menyusuri waktu menjemput citaku
ibu lepaskanlah ku ke laut biru
akan kuarungi akan kuseberangi


ibu doakanlah ku sedang melangkah
menjalani hari menjemput harapku
ibu lepaskanlah ku dengan maafmu
tentramkan hatiku menempuh hidupku


doamu oh ibu selalu kunanti
tulus dan suci dari relung hati
doamu oh ibu selalu kunanti
mohonkanlah Allah Rabbi besertakan selalu

:Lirik
by SEISMIC